Kala itu aula sebuah sekolah menengah pertama di ujung pelosok timur pulau jawa tengah mangadakan kegiatan sosialisasi
promosi. Tujuh orang kakak-kakak tampan dan cantik tengah mengeluarkan jurus
mautnya. Teknik persiasif kelas kakap agar para remaja cilik itu termakan oleh
segala bujuk rayuannya.
Dialah Nadia.
Gadis naif yang paling antusias mendengarkan bualan manis para sales promotion itu. Siapa yang tidak
tertarik jika dijanjikan untuk les gratis sepaket dengan snack kecil, teman
untuk belajar. Berkaca
dari teknik persuasif yang dilontarkan kakak-kakak tadi, Nadia pun menerapkan
kepada teman-temannya. Gadis paling kecil seantero kelas IX itu tak takut untuk
diabaikan. Lah bagaimana mau diabaikan, jika ialah siswi yang paling
berpengaruh di sekolah itu. Dicintai para guru, juga disenangi oleh hampir
seluruh warga sekolah. Sayangnya yang tak pernah Nadia tahu adalah, temannya
takut menolak karena khawatir tak dapat contekan ketika ujian menjelang.