Kamis, 11 Agustus 2016

Kenapa harus menulis?



Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian - Pramoedya Ananta Noer

Baca postingan sebelumnya 'why iam write?' di sini

Berawal dari sebuah pertanyaan teman, tiba-tiba munculah ide untuk membuat tulisan ini. Kenapa sih seseorang harus menulis dan memiliki karyanya sendiri?

Sebenarnya menulis bukanlah sebuah keharusan, tetapi ada banyak hal positif yang terjadi ketika seseorang menulis. Adalah hal yang menakjubkan tatkala rangkaian kata berubah menjadi seuntai makna yang bisa menginspirasi banyak personal. 

Jumat, 22 Juli 2016

Rangkaian Kehidupan

Rangkaian kisah itu mengajarkanku,
Jika hidup akan lebih indah jika senantiasa berucap syukur.
Iri, dengki ataupun benci menjelma hanya menjadi duri,
yang siap menyiksa hati hingga tak bersisa lagi.
Tak ada lagi rasa puas diri
Juga menjalani hari tanpa merasa happy
Yang ada hanya mental berkompetisi tinggi
Bersaing ingin menjadi yang terhebat, juga terbaik

Padahal ...
Masing-masing individu memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri
Tanpa harus menyamakan, ataupun agar terlihat sama

Dan pada akhirnya,
Hanya tersisa penyesalan,
Karena tak lagi menjadi diri sendiri
Bahkan jati diri lebih dulu hilang sebelum memulai untuk dicari

***


Minggu, 17 Juli 2016

Rindu

Adalah masa di mana air mata ini tak henti mengalir
Adalah masa di mana hati ini teramat sakit
Adalah masa di mana kaki ini tak lagi berpijak pada bumi
Juga adalah masa di mana langit tak lagi biru

Aku rindu ...
Rindu kekesalanmu
Celotehan manjamu
Kasih sayangmu

Aku rindu ibu
Aku rindu,
Amat teramat rindu

Lekas sembuh ibu,
Sakitmu dukaku
Sakitmu laraku

***

Yang teramat menyayangimu

Senin, 04 Juli 2016

Rasa

Kabut itu masih ada
Menjadi penghalang mentari menebar sinarnya
Menempel pada hati yang selalu dilema
Untuk menarik sudut bibir pun rasanya percuma

Lelah ...
Terlalu lelah rasanya
Bahkan untuk berpura-pura pun tak bisa

Allah ...
Aku ingin bahagia
Aku ingin seperti mereka
Aku ingin mereka menerimaku apa adanya
Aku ingin bersama mereka tanpa menanggung sesak di dada

***

Senin, 13 Juni 2016

Dear Juni


Lima bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 5 Januari 2016, Allah mengirimkan seorang gadis cantik dan pintar untuk menemani hariku yang seringkali kelabu. Aku masih ingat (aku dan dia) dipertemukan oleh sebuah event dating with the author di salah satu grup FB. 

Ketika itu banyak sekali pertanyaan yang aku lontarkan. Berturut-turut  gadis itu menjawab dengan sabar dan ramah. Entah ada keajaiban dari mana, gadis itu memilihku sebagai peserta terbaik, padahal kala itu aku hanya iseng-iseng saja. Tetapi siapa yang bisa mengira jika keisengan tersebut membawa berkah yang tak terukur keindahannya. Aku tahu Tuhan tak pernah merencanakan suatu hal secara kebetulan, termasuk pertemuanku dan dia. Apalagi jika mengingat begitu banyaknya persamaan diantara kami. 

Kami sama-sama terlahir sebagai anak sulung, di bulan dan tahun yang sama. Selain itu kami sama-sama pecinta sastra. bedanya kala itu dia telah menjadi penulis muda yang berbakat. Selain itu, Kita juga sama-sama tukang baper, mellow dan introvert.                                                                                                       
Aku masih ingat banyak sekali julukan untuk kami berdua. The Bapers, the juners, the girls, dan masih banyak the ... the ... the, lainnya ...

Hari ini gadis cantik itu berulang tahun. Semoga kamu makin dewasa ya Juni, makin kreatif dalam berkarya, dan banyak yang suka. Baik kamu maupun Bobby semoga segera bertemu dengan jodohnya Juni. 

Maaf hanya ini yang bisa aku lakukan buat kamu Juni. Maaf juga aku nggak bisa merangkai kata yang indah. Inilah ku Juni, dengan keadaanku yang seperti ini, aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Bahagia selalu ya Juni. Tetap menjadi Juni yang aku kenal, yang selalu menginspirasiku. 


*** 

Peluk Sayang, Junimu