Kamis, 30 November 2017

Jodoh



Sesuatu hal akan menarik untuk disimak/didengarkan/dibaca apabila hal tersebut relate dengan pendengar/pembacanya. Hal itu pula yang akhir-akhir ini mulai saya rasakan. Dulu, saya begitu malas untuk membaca hal-hal berbau jodoh/perjodohan.  Entah itu fiksi atau bacaan nonfiksi. Walaupun tetap saya baca sebanarnya, tak dapat dipungkiri jika otak saya mengeluh, bertanya-tanya apa sih menariknya ini? mengapa banyak sekali yang membahasnya? (itu dulu ketika saya berumur belasan tahun)

Minggu, 12 November 2017

Cukup Mencintaimu Dalam Diam


Tak perlu menatap, cukup dengan mendengar suaramu saja jantungku berdetak tak sama. Tanpa harus mengetahui keindahan rupamu, aku telah merasa nyaman tatkala diksimu memenuhi otak. Hatiku seketika memilihmu saat pertama kali kamu menuntunku pada celah cahaya. Aku tak butuh rasaku berbalas, cukup angin saja yang merasakan. Karena aku tahu hatimu telah terukir satu nama.
Dan itu ... bukanlah aku ...

Aku tak ingin menjadi benalu dalam ikrar sucimu dengannya. Biarlah hatiku saja yang terluka. Aku tak ingin membebanimu setitik saja.




Jumat, 14 Oktober 2016

Kata Orang Aku Pandai

PANDAI ...
Sebuah anugerah dengan padanan kata sempurna.
Siapa yang tidak menginginkan dirinya pandai? Tidak ada!
Semua orang menginginkan dirinya pandai, tak peduli sekeras apa pun mereka berusaha.
Ibuku pandai, tak pernah absen dari juara kelas, bintang kelas kesayangan semua orang.
Kata para tetangga, kepandaian ibuku menurun padaku.
Tetapi bagiku, hal itu bukanlah sebuah kehormatan. Karena yang orang katakan tidaklah sepenuhnya benar.

Sabtu, 24 September 2016

Baper Nikah, Yuk Kita Ngaca!



          Sebenarnya bingung mau nulis apa. Udah guling-guling di tempat tidur habis sholat shubuh jam lima pagi tadi. Masih juga belum nemu inspirasi. *malah curcol
            Tiba-tiba indra penglihatan menangkap kertas cantik berwarna pink yang berhiaskan ornamen pengantin. Yupp, undangan nikah. Dengan responsif, hati kecil langsung bertanya: Temanmu udah banyak yang nikah loh, giliranmu kapan? Masa didatengi undangan melulu, nyebarnya kapan? Hufftt... niatnya ingin nutup telinga rapat-rapat. Tetapi susah, tetap saja dengar rengekan si hati kecil tersebut.
Kali ini otak ikutan rese’. Tiba-tiba dia ingat percakapan teman-teman di kampus tadi. Dan masih seputar jodoh dan menikah. Dududu ... Berhubung yang cuap-cuap itu sudah pada punya pasangan untuk dibawa ke pelaminan, langsung deh saya  milih ngacirrrr. *Balada seorang jomblo. Tetapi jomblo berkualitas. Karena nunggu yang halal :p *Eaaa, alibiiii 
Penat rasanya mikirin nikah, dan nikah. Kembali kubuka layar 4,5 inc yang dua tahun ini menamani. Membuka aplikasi whatsapp dan membaca chat-chat yang baru masuk. Dannn ... isinya tak jauh berbeda kawan. Sekarang si mata juga mulai terkontamisi akibat isi chat ngomongin nikah semua. Baper lagi. Baper lagi ...           

Kamis, 11 Agustus 2016

Kenapa harus menulis?



Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian - Pramoedya Ananta Noer

Baca postingan sebelumnya 'why iam write?' di sini

Berawal dari sebuah pertanyaan teman, tiba-tiba munculah ide untuk membuat tulisan ini. Kenapa sih seseorang harus menulis dan memiliki karyanya sendiri?

Sebenarnya menulis bukanlah sebuah keharusan, tetapi ada banyak hal positif yang terjadi ketika seseorang menulis. Adalah hal yang menakjubkan tatkala rangkaian kata berubah menjadi seuntai makna yang bisa menginspirasi banyak personal.