Skenario
apa ini ya Allah? Ketika aku meminta dipertemukan dengannya jika dia memang
jodohku, Engkau mempertemukan kami. Namun mengapa di saat yang bersamaan Engkau
juga menperdengarkanku kabar jika ternyata ia telah meminang gadis lain. Lalu
sebenarnya dia ini jodohku atau bukan ya Allah? Apa ini maksud dari tikung
dengan doa? Sebelum ijab itu terucap kemungkinan itu pasti ada kan ya Allah?
Hari ini aku berniat pergi ke rumah pak kades. Ada
beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan beliau. Karena rumah pak kades
berdekatan dengan rumah si dia, aku pun memutuskan untuk memakai pakaian
terbaik yang aku punya. Yang sopan tapi tidak norak. Yang sekiranya tidak
berlebihan maksudnya. Kan nggak etis kalau malah terlihat seperti orang mau
pergi kondangan.
Aku memakai rok lipat hitam dan blus satin merah
muda bergambar kepala hello kitty kecil. Kupadankan dengan kerudung antem
berwarna dusty pink. Kerudungku cukup panjang, hingga melewati dada. Ada
kerutan-kerutan seperti renda di bawahnya. Aku membelinya dari uang hasil
lembur bekerja. Untuk saat ini, kerudung ini adalah kerudung ternyaman yang aku
punya. Ntah mengapa, ketika memakainya, tingkat percaya diriku meningkat
berkali-kali lipat. Atau mungkin karena ini termasuk kerudung antem kali ya, jadi
pipiku tidak kelihatan tembam-temban amat.
Di sepanjang perjalanan, hatiku tak hentinya
bergemuruh. Apa lagi perkaranya, kalau bukan karena si dia. Sampai di rumah pak
kades, aku mendesah kecewa. Pak kades sedang pergi ke luar. Ingin datang
kembali lagi nanti malam rasanya sangat berat. Kuputuskan untuk menunggu saja.
Tidak enak menunggu di dalam rumah karena hanya ada
anak lelaki pak kades, aku pun keluar. Menunggu di pinggir jalan di bawah pohon
srikaya. Aku duduk di atas motor matik, sambil membaca terjemahan surat An-Nisa
melalui aplikasi Al-Quran di smartphone.
Setengah jam berlalu, pak kades belum juga ada
tanda-tanda datang. Baiklah, mungkin memang seharusnya aku pulang dulu saja.
Dadaku mencelus, saat baru saja kunyalakan mesin
motor, ada dia baru saja berbelok dari pertigaan depan. Ia melihatku sekilas
kemudian pandangannya kembali fokus pada jalanan.
Di saat yang bersamaan, mobil pak kades terlihat di
keca spion. Aku mendesah lega. Kemudian kembali memarkirkan motorku di halaman
rumah beliau.
"Sudah menunggu lama?" Pertanyaan
basi-basi pak kades saat baru saja turun dari mobilnya.
Aku hanya menanggapi dengan anggukan kemudian
mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Ternyata ada bu kades juga di dalam
rumah, tapi aku tidak melihat. Bergegas aku menyalami beliau dan menyerahkan
berkas yang harus ditanda tangani pada pak kades tanpa basa-basi.
"Besok ke balai desa ya, langsung temui pak
sekdes saja. Si Ardan besok tunangan, jadi nggak akan masuk."
Rasanya aku baru saja menelan biji durian!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar