Kamis, 24 Mei 2018

(3) Kemungkinan



Skenario apa ini ya Allah? Ketika aku meminta dipertemukan dengannya jika dia memang jodohku, Engkau mempertemukan kami. Namun mengapa di saat yang bersamaan Engkau juga menperdengarkanku kabar jika ternyata ia telah meminang gadis lain. Lalu sebenarnya dia ini jodohku atau bukan ya Allah? Apa ini maksud dari tikung dengan doa? Sebelum ijab itu terucap kemungkinan itu pasti ada kan ya Allah?

Hari ini aku berniat pergi ke rumah pak kades. Ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan beliau. Karena rumah pak kades berdekatan dengan rumah si dia, aku pun memutuskan untuk memakai pakaian terbaik yang aku punya. Yang sopan tapi tidak norak. Yang sekiranya tidak berlebihan maksudnya. Kan nggak etis kalau malah terlihat seperti orang mau pergi kondangan.

Aku memakai rok lipat hitam dan blus satin merah muda bergambar kepala hello kitty kecil. Kupadankan dengan kerudung antem berwarna dusty pink. Kerudungku cukup panjang, hingga melewati dada. Ada kerutan-kerutan seperti renda di bawahnya. Aku membelinya dari uang hasil lembur bekerja. Untuk saat ini, kerudung ini adalah kerudung ternyaman yang aku punya. Ntah mengapa, ketika memakainya, tingkat percaya diriku meningkat berkali-kali lipat. Atau mungkin karena ini termasuk kerudung antem kali ya, jadi pipiku tidak kelihatan tembam-temban amat.

Di sepanjang perjalanan, hatiku tak hentinya bergemuruh. Apa lagi perkaranya, kalau bukan karena si dia. Sampai di rumah pak kades, aku mendesah kecewa. Pak kades sedang pergi ke luar. Ingin datang kembali lagi nanti malam rasanya sangat berat. Kuputuskan untuk menunggu saja.

Tidak enak menunggu di dalam rumah karena hanya ada anak lelaki pak kades, aku pun keluar. Menunggu di pinggir jalan di bawah pohon srikaya. Aku duduk di atas motor matik, sambil membaca terjemahan surat An-Nisa melalui aplikasi Al-Quran di smartphone.

Setengah jam berlalu, pak kades belum juga ada tanda-tanda datang. Baiklah, mungkin memang seharusnya aku pulang dulu saja.

Dadaku mencelus, saat baru saja kunyalakan mesin motor, ada dia baru saja berbelok dari pertigaan depan. Ia melihatku sekilas kemudian pandangannya kembali fokus pada jalanan.

Di saat yang bersamaan, mobil pak kades terlihat di keca spion. Aku mendesah lega. Kemudian kembali memarkirkan motorku di halaman rumah beliau.

"Sudah menunggu lama?" Pertanyaan basi-basi pak kades saat baru saja turun dari mobilnya.

Aku hanya menanggapi dengan anggukan kemudian mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah. Ternyata ada bu kades juga di dalam rumah, tapi aku tidak melihat. Bergegas aku menyalami beliau dan menyerahkan berkas yang harus ditanda tangani pada pak kades tanpa basa-basi.

"Besok ke balai desa ya, langsung temui pak sekdes saja. Si Ardan besok tunangan, jadi nggak akan masuk."

Rasanya aku baru saja menelan biji durian!










Tidak ada komentar:

Posting Komentar