Dear, tuan yang namanya terpatri
dalam hati....
Sejak berbincang denganmu di waktu sebelum terbitnya cahaya itu, aku mendapati diriku sudah tidak waras lagi. Bagaimana mungkin pikiranku tak pernah absen menyerukan namamu? Serta perasaanku yang menghangat kala mengingat interaksiku denganmu. Aku takut sebenarnya menarik kesimpulan atas
rasa ini, karena sejatinya telah ada seseorang yang lebih pantas atas perasaan ini. Tetapi bagaimana lagi? Kita tidak bisa mengatur perasan kita sendiri
bukan? Jadi bukan salahku jika pada akhirnya aku mencintaimu.
Tuan, jangan risau terlebih
dahulu atas pembukaan surat ini. Meskipun aku tak dapat menampik rasaku untuk mencintaimu, aku tidak akan membiarkan hal itu merusak hubunganmu dengannya. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam kisahmu dengannya. Cukup aku yang merasakan cinta ini sendiri dan menutupnya rapat-rapat. Aku tidaklah
keberatan jika hanya menjadi angin yang berembus di sekitarmu. Yang dapat
memberimu kesejukan, namun untukku sendiri tidak mendapatkan apa-apa.
Aku tahu diri jika aku memang tidak pantas
untukmu. Melalui salah satu tulisanmu aku tahu jika saat ini aku hanyalah
menjadi seorang pungguk yang merindukan bulan. Kamu terlalu jauh dan tinggi.
Bahkan meskipun telah kulangitkan namaku, aku yakin kamu tak akan pernah
menyadarinya. Apalah arti diriku dibanding bidadari tak bersayap yang kini
menjadi teman dalam tidurmu?
Kalau boleh jujur, aku iri sekali padanya.
Sejak dulu kita hanya bisa bercengkrama melalui media, sedangkan dengannya kamu
tidak memerlukan perantara apa-apa. Tuan, aku harus bagaimana sekarang?
Melupakanmu sangat sulit rasanya, tetap mengharapkanmu juga bukan pilihan yang
bijak. Bantu aku tuan, bisikkan aku caranya!
Love,
Sari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar