Minggu, 03 Desember 2017

Dear Tuan Yang Namanya Terpatri dalam Hati



Dear, tuan yang namanya terpatri dalam hati....

            Sejak berbincang denganmu di waktu sebelum terbitnya cahaya itu, aku mendapati diriku sudah tidak waras lagi. Bagaimana mungkin pikiranku tak pernah absen menyerukan namamu? Serta perasaanku yang menghangat kala mengingat interaksiku denganmu. Aku takut sebenarnya menarik kesimpulan atas rasa ini, karena sejatinya telah ada seseorang yang lebih pantas atas perasaan ini. Tetapi bagaimana lagi? Kita tidak bisa mengatur perasan kita sendiri bukan? Jadi bukan salahku jika pada akhirnya aku mencintaimu.

            Tuan, jangan risau terlebih dahulu atas pembukaan surat ini. Meskipun aku tak dapat menampik rasaku untuk mencintaimu, aku tidak akan membiarkan hal itu merusak hubunganmu dengannya. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga dalam kisahmu dengannya. Cukup aku yang merasakan cinta ini sendiri dan menutupnya rapat-rapat. Aku tidaklah keberatan jika hanya menjadi angin yang berembus di sekitarmu. Yang dapat memberimu kesejukan, namun untukku sendiri tidak mendapatkan apa-apa. 

            Aku tahu diri jika aku memang tidak pantas untukmu. Melalui salah satu tulisanmu aku tahu jika saat ini aku hanyalah menjadi seorang pungguk yang merindukan bulan. Kamu terlalu jauh dan tinggi. Bahkan meskipun telah kulangitkan namaku, aku yakin kamu tak akan pernah menyadarinya. Apalah arti diriku dibanding bidadari tak bersayap yang kini menjadi teman dalam tidurmu?

            Kalau boleh jujur, aku iri sekali padanya. Sejak dulu kita hanya bisa bercengkrama melalui media, sedangkan dengannya kamu tidak memerlukan perantara apa-apa. Tuan, aku harus bagaimana sekarang? Melupakanmu sangat sulit rasanya, tetap mengharapkanmu juga bukan pilihan yang bijak. Bantu aku tuan, bisikkan aku caranya!



Love, 
Sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar