Dear, tuan yang namanya terpatri
dalam hati....
Sejak berbincang denganmu di waktu sebelum terbitnya cahaya itu, aku mendapati diriku sudah tidak waras lagi. Bagaimana mungkin pikiranku tak pernah absen menyerukan namamu? Serta perasaanku yang menghangat kala mengingat interaksiku denganmu. Aku takut sebenarnya menarik kesimpulan atas
rasa ini, karena sejatinya telah ada seseorang yang lebih pantas atas perasaan ini. Tetapi bagaimana lagi? Kita tidak bisa mengatur perasan kita sendiri
bukan? Jadi bukan salahku jika pada akhirnya aku mencintaimu.
